Inilah 5 Mahasiswa DO yang Kini Jadi Entrepreneur Sukses

Setiap orang memiliki kisah suksesnya masing-masing. Ada yang berhasil menjadi pekerja sosial yang menginspirasi, karyawan dengan karir yang melejit, dan entrepreneur  sukses yang memiliki jaringan bisnis dimana-mana.

Sepuluh tahunan yang lalu, profesi dokter dan pengacara menjadi profesi yang cukup banyak diminati karena menjanjikan masa depan. Namun, zaman sudah berubah. Berkat kemajuan teknologi dan perkembangan zaman, dunia entrepreneur kini lebih diminati.

Namun, satu hal yang menarik untuk disimak.  Mengapa tak sedikit entrepreneur sukses yang justru tidak menyelesaikan pendidikannya, ya… Bahkan, sebagian diantaranya memilih menjadi mahasiswa DO yang tidak menyelesaikan kuliahnya.

1. Michael Dell

Michael Dell

Image by Succeed Feed

Adakah diantara teman-teman disini yang menggunakan produk laptop Dell? Laptop merk yang satu ini memiliki penggemarnya tersendiri.

Michael Dell adalah sosok dibalik suksesnya produk  Dell yang laris manis dipasaran. Dell sudah menunjukkan minatnya pada dunia komputer sejak belia. Pada usia 15 tahun, Dell memulai misi pertamanya. Proyek pertama Dell yang bernama PC’s Limited menghabiskan modal sebanyak $ 1000. Pada pertengahan tahun kedua usahanya, Dell berhasil mendapatkan $ 80.000 dari bisnisnya.

Namun, pada usia 19 tahun, Dell memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di Universitas Texas, Austin. Entrepreneur  sukses yang dulunya mahasiswa DO kini menjadi salah satu perusahaan komputer dengan penjualan terbanyak di dunia. Penjualannya menembus angka 30 juta dollar AS per harinya.

2. Jan Koum

Jan Koum

Image by mediawarta.com

Hampir setiap harinya, kamu pasti menggunakan aplikasi yang satu ini untuk berkomunikasi. Ya, benar aplikasi berbagi pesan Whatsapp. Dibalik kepopuleran Whatsapp, ada kerja keras seorang Jan Koum dibelakangnya.

Jan Koum adalah seorang siswa yang kurang mampu saat di sekolah. Selain itu, Jan Koum memiliki kendala berbahasa Inggris. Selepas lulus sekolah, Jan Koum melanjutkan pendidikan di San Jose University mengambil jurusan komputer dan matematika.

Namun akhirnya, Jan memutuskan  untuk drop out. Jan lebih memilih untuk lebih fokus mengembangkan bisnisnya. Pasca drop out, Jan tidak langsung sukses begitu saja. Jan pernah bekerja sebagai pembungkus barang di supermarket, bekerja di perusahaan audit, dan internet service provider.

Usahanya berbuah manis. Pada Oktober 2007, Jan memutuskan untuk keluar dari Yahoo. Jan memulai merintis Whatsapp. Jan menilai iklan sangat mengganggu sehingga ingin menciptakan aplikasi tanpa iklan. Pada tahun 2009, Jan membeli  iPhone kemudian mengembangkan aplikasinya.

3. Hendy Setiono

Hendy Setiono

Image by marketing.co.id

Bisnis kuliner memang menggiurkan. Tak heran, jika banyak entrepreneur yang lebih memilih bidang kuliner sebagai ladang bisnisnya. Salah satunya adalah Hendy Setiono. Pria kelahiran 30 Maret 1983 ini merupakan pengusaha sekaligus Presiden Direktur Baba Rafi Enterprise. Adapun produk waralabanya antara lain Kebab Turki Baba Rafi, Piramizza, dan Ayam Bakar Mas Mono.

Hendy memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. Berkat kegigihannya, Kebab Turki Baba Rafi kini semakin dikenal dan diminati para penggemarnya. Bahkan lebih mengejutkannya lagi, Rafi memiliki ribuan outlet yang kini tersebar di delapan negara.

4. Bong Chandra

Bong Chandra

Image by jdacommunity.com

Pembicara iya, motivator iya, pebisnis juga iya. Inilah karakter dan julukan yang tepat disematkan kepada salah satu inspirator Indonesia, Bong Chandra. Pria kelahiran 25 Oktober 1987 ini bahkan mendapatkan predikat sebagai ‘motivator termuda’ saat ia berusia 23 tahun. Bong juga menulis buku berjudul Unlimited Wealth.

Bong yang sebelumnya kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara ini akhirnya memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Pria ini memutuskan untuk lebih fokus menjadi pembicara dan mengembangkan bisnis propertinya.

5. Arief Widhiyasa

Arief Widhiyasa

Image by detik.com

Arief Widhiyasa adalah sosok hebat dibalik Agate Studio, yang bergerak dibidang industri game. Semuanya bermula ketika ia dan temannya dari Institut Teknologi bandung (ITB) berkumpul untuk mengikuti lomba pengembangan game. Saat tahun 2009, teman-temannya satu per satu mulai wisuda. Namun, Arief akhirnya memutuskan untuk drop out.

Arief mengaku sangat bersyukur dengan kondisi yang ia alami saat ini. Dunia game yang telah ia akrabi bahkan sejak duduk di bangku taman kanak-kanak. Arief merasa bersyukur karena ia dapat bekerja didunia yang menjadi minatnya.

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

Kesuksesan yang mereka raih sekarang bukan dengan cara yang instan. Meskipun mereka memutuskan untuk menjadi mahasiswa DO, mereka mempertimbangkan keputusan ini dengan matang-matang. Jadi, nggak ada alesan buat kalian yang ‘mengiyakan’ drop out karena males-malesan ya..

Komentar

comments

Leave a Reply