Waspadai Musuh Terbesar Penulis Berikut Ini

Orang bijak bilang musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri, namun apakah musuh terbesar dari seorang penulis? Bukan artikel jelek, bukan pula penghasilan tak pasti, atau hilangnya inspirasi, melainkan typo atau salah tulis. Salah satu perusahaan media ternama tempat saya pernah bekerja mengusung “typo is our biggest enemy” sebagai slogannya.

Mengapa typo? Salah tulis merupakan hal yang biasa dan seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Jika demikian sanggahan sebagian orang, cobalah untuk memasukkan kerikil kecil dalam sepatu sebelum mulai berjalan. Mengganggu, tak nyaman, dan pasti bikin tidak betah bukan? Sama halnya dengan typo.

Lalai mengetik kata “yang” menjadi “yagn” atau “saya” dengan “say” bukanlah hal sepele, apalagi bila kata yang salah ketik jadi berubah maknanya, contoh: “buka demikian” yang harusnya tertulis “bukan demikian”.

Artikel dengan banyak typo itu sangat mengganggu, khususnya bagi pembaca yang jeli dan perfeksionis. Dalam sebuah kebiasaan salah ketik/ tulis, sebenarnya terdapat beberapa makna tersembunyi yang dapat dibaca, berkaitan dengan karakter penulis.

  1. Tingkat ketelitian penulis

Jika seseorang mengaku dirinya teliti namun sering typo dalam menulis, maka itu hanyalah tong kosong nyaring bunyinya. Bagaimana mau teliti, kalau kesalahan kecil saja tidak diperhatikan?

Waspadai Musuh Terbesar Penulis Berikut Ini

  1. Malas

Biasanya saat seseorang rutin membuat dan menjual makanan tertentu setiap hari, katakanlah seperti donat, ia bakal enggan makan donat buatannya sendiri karena sudah merasa eneg. Jangankan makan, mencium aromanya saja sudah bosan. Sama halnya dengan menulis, para penulis biasanya cenderung malas membaca ulang artikel yang dibuatnya.

Hal inilah yang sering membuat masalah typo jadi kelolosan karena artikel yang sudah ditulis tidak dibaca lagi. Dan mungkin inilah salah satu alasan mengapa profesi writer dan editor sampai harus dipisahkan.

  1. Tidak bertanggung jawab / asal-asalan

Setiap produk yang ingin dijual harus lulus sensor. Itulah sebabnya selalu ada bagian quality control sebagai tim pemeriksa terakhir sebelum produk itu diluncurkan ke pasaran. Kalau koki atau ibu rumah tangga biasa saja mencicipi hidangannya sebelum disuguhkan ke konsumen, maka penulis juga wajib mengecek hasil tulisannya sebelum disetorkan kepada klien. Keberadaan typo merupakan salah satu tanda bahwa penulis lalai dalam hal itu.

Meski terdengar ekstrim dan mungkin sedikit kejam, namun itulah faktanya. Typo sekecil apapun bisa membuat sebuah produk tulisan menjadi cacat. Jika dibiarkan terus-menerus, kesalahan ini bisa jadi kebiasaan bagi seorang penulis, yang menyebabkan image-nya jadi buruk. Dan bila image buruk, maka akan sukar bagi dirinya untuk mendapatkan kepercayaan klien. Saat klien enggan percaya, maka siapa yang kira-kira bakal mempekerjakan penulis semacam itu?

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

Untuk itu, jangan anggap remeh typo sekecil apapun. Mulai sekarang mari kita musuhi yang namanya salah tulis/ ketik, dan selalu baca ulang setiap buah pemikiran yang kita tulis.

Komentar

comments

One Response

Leave a Reply