Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

“Rasa percaya diri sejati bukan tumbuh dari tiadanya rasa takut dalam diri. Ia tumbuh dari keyakinan untuk terus melakukannya. Walaupun takut setengah mati.”
-Barbara DeAngelis-

Kebanyakan orang yang berjumpa dengan saya menilai saya sebagai pribadi yang percaya diri. Pribadi yang memiliki kualitas percaya dengan diri yang tinggi. Seorang teman yang sudah lama berada bersama saya atau dekat dengan saya menilai saya adalah orang kurang percaya diri. Kepercayaan diri saya ada karena faktor keseringan melakukannya. Kepercayaan diri saya lahir dari melawan rasa takut. Dua pandangan di atas merupakan sebuah paradoks. Yang satu mengatakan secara positif, yang lain lagi melihat secara negatif.

Sejatinya, pendapat kedua adalah benar dan jujur membicarakan siapakah saya. Saya pribadi yang takut kalau diberi tugas dan tanggungjawab. Namun, saya tidak melihat itu sebagai sebuah penghalang. Tugas itu adalah batu pijakan untuk mengasah rasa percaya diri.

Percaya diri (self-condividence) adalah keutamaan pertama yang harus dimiliki setiap orang. Kepercayaan diri memang ditumbuhkan sejak masa kecil. Namun, kepercayaan diri bukan sekali jadi. Ia menuju becoming process. Orang tidak dilahirkan menjadi percaya diri, melainkan orang diberi kesempatan menumbuhkan rasa percaya diri.

Kepercayaan diri rakyat Indonesia menjadi ‘luntur’ tat kala arus media merasuki kehidupan mayarakat. Kostum budaya yang melekat sirnah dan hilang berantakkan. Manusia Indonesia cenderung mengikuti trend. Ganteng dan cantik adalah apa kata media. Orang yang ganteng berarti orang yang memiliki speda motor, HP canggih, Kulit Putih. Maka, anak muda yang tidak memilikinya berusaha untuk mengikuti apa kata iklan. Demikian pun perempuan. Perempuan yang cantik adalah perempuan yang memakai baju yang kurang kain. Baju yang menutup semua tubuh adalah out of date. Dengan sebuah gagasan filofis klasik, sekarang kan zaman modern. Semua harus up to date. Kalau seperti itu, maka wanita yang berambut kriting dan berkulit hitam tidak termasuk cantik. Ini rasis, bukan?

Lahan menumbuhkan rasa percaya diri bukan lagi Ego (aku), melainkan iklan atau arus media. Maka, tidak heran orang mengatakan tubuh perempuan di Indonesia bukan lagi milik mereka, melainkan miliki perusahaan dan biro perusahaan. Di sana, sedang terjadi pencaplokan subjek. Selalu saja kalau ada iklan digandeng dengan perempuan. Lebih ganas, perempuan yang diiklankan adalah perempuan yang seksi dan kadang kekurangan kain menutupi tubuh mereka. Ironis, bukan?

Saya mengajak anak muda, agar lahan percaya diri bukan biro iklan, melainkan diri mereka sendiri dan keluarga. Keluarga adalah locus persemaian benih kasih dan percaya diri. Tangki cinta seseorang diisi di sana. Kualitas kepercayaan diri tergantung dari seberapa besar tangki cinta anda sudah diisi. Adakah manusia memberi dari apa yang dia tidak miliki? Saya rasa tidak. Kendatipun apa yang diagungkan iklan, kalau orang sudah merasa cukup dengan diri melalui keutamaan yang diajari keluarga, ia bisa membenteng arus media.

Kiranya gagasan ini membantu anak mudah agar lebih mencintai diri mereka sendiri. Lebih menumbuhkan rasa percaya diri dengan keutamaan-keutamaan yang hidup dari dalam diri dan keluarga, bukan apa kata iklan. Dengan demikian, anda sungguh menjadi tuan atas diri anda sendiri. Kebaikan itu bukan karena sesuatu itu modern, yang buruk pun bukan karena itu out of date.

Semuanya sudah ada di dalam diri manusia. Tinggal, bagaimana orang merawat, menggali, dan menumbuhkan kelebihan sembari mencoba mengisi kelemahan itu dengan kualitas lain. Maka, anak muda harus memiliki ‘pegangan’. Apa yang menjadi pegangan anda. Kalau orang memegang nilai bahwa narkoba dan seks adalah sumber kepercayaan diri, maka orang akan terjerumus ke sana. Kalau orang memegang nilai sekolah dan pendidikan menjadi yang lebih terdahulu, maka kehidupannya pun mengalir dari apa yang dia pegang. Maka, peganglah sesuatu yang bernilai. Dengan demikian, anda akan bisa menumbuhkan rasa percaya diri anda.  SEMOGA.

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

Silahkan baca juga:

[coloum_row][coloum_one]writer is named eugen sardono[/coloum_one][/coloum_row]

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Kini, Menempu Pendidikan Filsafat di STF Widya Sasana Malang

Komentar

comments

Leave a Reply