Manusia dan Musik

musik dan manusia“Coba belajarlah dari pemusik dengan membidik irama yang tepat
Dan bias mengatur waktu yang tepat dalam jarak yang sempurna”

Dalam sebuah legenda Yunani. Musik selalu mendapat tempat utama di dalam kehidupan. Legenda itu mengisahkan seorang tokoh bernama Orpheus. Ia ahli musik pertama. Suatu kali Orpheus memetik dawainya, dan semua alam terapesona. Orpheus mendendangkan musik saat kehilangan kekasihnya. Apa lacur, ternyata ada makhluk yang tidak senang dengan senandung musik. Lalu, mereka membunuh Orpheus. Dan sampai sekarang orang mengenangnya sebagai promotor musik.

Lebih dalam Nietzsche menyentil, hidup tanpa musik adalah sebuah kesalahan. Musik membangkitkan jiwa manusia. Jiwa terasa gersang dan kering tat kala musik absen dalam kehidupan.

Ada pun manfaat musik adalah pertama, musik dalam peristiwa kelahiran. Ketika peratama kali manusia hadir di dunia, ia sudah dijemput oleh musik. Ada nyanyian syukur di mana ia sudah lahir. Saat seperti itulah, ia dikenalkan dengan musik. Di dalam dirinya, ada sebuh keinginan untuk selalu mendengarkan musik. Ia mengumpulkan banyak bunyi dan nada-nada yang turut menumbuhkan jiwanya. Sehingga manusia punya kerinduan dengan musik. Ini adalah natural di dalam dirinya.

Kedua, Musik untuk hidup spiritual. Ternyata musik justru dapat hadir dalam kehidupan apa saja. Kehidupan spiritual tanpa musik akan mati. Musik dapat menghubungkan manusia dengan Allah. Musik hadir sebagai penghubung kedekatan relasi manusi dan Sang Pengada. Tak urung, Masjid, Kuil, Pura, dan Gereja selalu ada musik. Itu mengindikasikan musik tak bisa dipisahkan dari manusia. Dalam upacara ritual manusia, musik pun hadir di sana. Musik cakupannya luas, berupa bunyi, nada, lagu, atau pun nyanyian.

Ketiga, musik dalam ritus kematian. Jadi, ini menjadi cetak-biru bahwa hidup manusia dari lahir sampai mati selalu membutuhkan kehadiran musik. Ketika manusia lahir, ia dijemput dengan musik. Ketika mati pun, ia dihantar oleh musik menuju ke hidup yang lain. Ada nyanyian dan iringan menuju ritual kematian. Musik tampil dengan menerobos semua kehidupan. Tak ada yang mampu menghalanginya melakukan sesuatu dalam kehidupan manusia.

Belajar dari Musik

Pertama, belajar menjadi the giver (pemberi). Dengan melihat manfaat musik, suatu hal yang pasti ia selalu menjadi the giver. Ia memberikan dirinya bagi manusia. Kendatipun, ia sia-sia tanpa pendengar namun ia menjadi utuh dan sempurna ketika menjadi the giver. Kecenderungan manusia yang mau menjadi the receiver disentakkan oleh musik. Pelajaran lebih berharga juga manusia yang hanya menjadi the taker (pengambil).

Kedua, belajar menjadi setia. Musik tidak pernah ingin menjadi sukses. Ia lebih memposisikan diri sebagai orang yang setia. Bahkan, ketika manusia tak setia mendengar, ia selalu hadir. Kecenderungan manusia yang mengejar sukses dan lupa setia menjadi batu cambukan dalam melihat gelora musik.

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Tulisannya pernah dimuat di Utusan, Jawa Pos, Kompas Kampus, Floresa, Flores Muda, Vox Muda, FORUM, Flores Pos, dan Media Lainnya.

Komentar

comments

Tags:, ,

Leave a Reply