Seni Merawat Cinta by Eugen Sardono, SMM

merawat cinta

Ilustration by artstation.com

“A couple is two persons in one love”
-Aristoteles-

Gagasan Aristoteles membantu kita membeda cinta in se. Realitas cinta melingkari kehidupan manusia sebagai makhluk yang mencinta. Cinta sesungguhnya tak bisa didefenisikan, apalagi mereduksinya dalam kata atau kalimat. Ia sesungguhnya hadir dalam kehidupan manusia.

Gagasan sebuah pasangan adalah dua individu dalam satu cinta membuka imajinasi kita untuk mencoba mengupasnya. Dua pribadi adalah dua realitas yang otonom. Realitas yang masing-masing memiliki ‘wilayah keunikan’. Maka, cinta sesungguhnya menyatukan keunikan untuk dipahami, bukan dikhianati apalagi dicela dan dihina. Kalau demikian, sadis, bukan?

Seni Merawat Cinta

Cinta ibarat pohon. Ia harus diberi air, pupuk, dan dirawat. Terkadang dalam perawatan, ada cabang-cabang yang gunting agar pohonya semakin cantik dan berbuah. Cinta juga demikian, perlu dirawat. Dua pribadi tadi sama-sama diberi waktu merawat dan memberi pupuk agar pohon cinta di dalam hati bertumbuh subur.

Ada juga cabang-cabang atau ranting yang digunting atau dipangkas. Tentu, ada sebuah kesakitan dan penderitaan. Itu adalah normal. Cinta bukan soal berhasil. Cinta dalam hal ini harus sampai kepada hasil, yaitu ada buah. Ada pohon yang rindang belum tentu berbuah. Cinta yang hanya ingin terus rindang, enggan memangkas cabang-cabang karena takut sakit dan menderita, cinta yang rindang tapi tidak berbuah.

Menghasilkan Buah

Kalau cinta tadi ibarat pohon. Maka, ada suatu tugas untuk menghasilkan buah. Sebelum berbuah, tentu ada rasa sakit dan rasa lelah. Terkadang stres, karena belum juga berbuah. Di sanalah, ketahanan dan kesetiaan seseorang diuji.

Agar berbuah, maka cabang-cabang keegoisan dipangkas dan dimusnahkan. Ranting-ranting kebohongan dipotong sedemikian rupa. Akar-akar cemburu perlu dirampingi agar bisa menghasilkan cinta yang berbuah. Kedua pribadi tadi sama-sama harus berani melakukan ‘gerakan keluar’. Keluar dari zona nyaman. Keluar dari perasaan pribadi yang tidak baik. Keluar dari hobi pribadi yang membunuh cinta. Hanya dengan demikian, orang bisa masuk dalam kehidupan yang sama-sama diinginkan. Bukan hanya keinginan seseorang. Melainkan, keinginan dua pribadi tadi. Seandainya demikian, kegagalan seorang pribadi adalah kegagalan pribadi lain. Keberhasilan seseorang adalah keberhasilan pasangan juga.

Dan akhirnya, keduanya sama-sama berujar, amor omnia vincet (cinta mengubah segalanya). Atau orang menyanyikan secara bersama-sama sebuah syair, love changes everything. Semoga!

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

Eugen Sardono, SMM adalah Montfortan. Kini, belajar Filsafat di STF Widya Sasana, Malang

Komentar

comments

Leave a Reply