Menghargai Petani-Sebuah Gerbang Menuju Kemandirian Pangan

petaniku

Sumber img: www.hukum-konstitusi.com

PENGHARGAAN TERHADAP PETANI

Pengantar

Sebagai Negara yang memiliki tanah luas dan subur, kemudian terjadi kelangkaan pangan,atau dengan kata lain mengimpor bahan makanan dari negeri tetangga,merupakan sebuah ironi tajam yang perlu diperhatikan dengan seksama seluruh komponen bangsa ini, terkhusus pemimpin yang baru. Sebagai Negara dengan basis alam subur dan iklim yang sangat ramah untuk mengembangkan pola agrarisme,menjadi hal yang lucu ketika kemudian malah dicanangkan pembangunan industry besar-besaran.

Tulisan ini hendak mengupas sedikit perihal bagaimana sebagai sebuah bangsa agraris mampu mengembalikan posisi idealnya sebagai Negara agraris dan kemudian mampu mandiri pangan demi kemampuan bertahan dalam era pasar bebas asean. Dengan tulisan ini setidaknya (bagi yang membaca,syukur-syukur Pak Jokowi Membacanya) akan menggugah kesadaran akan betapa pentingnya menempatkan pertanian sebagai fondasi pokok ketahanan pangan di Negeri ini. Diawali dari realita geografi, sejarah pertanian,masuknya konsep industrialisasi,perubahan polapikir masyarakat dan punahnya semangat bertani di kalangan masyarakat Indonesia.

Indonesia,Sebuah Negeri Subur di Sekitaran Kathulistiwa

Banyak cara untuk mengungkapkan betapa subur negeri ini. Beberapa itu diantaranya adalah dari grup music legendaries Indonesai,Koes Ploes dengan lagu Nusantara. Lagu ini ada beberapa versi namun yang sangat kentara menggambarkan kesuburan Nusantara da pada lirik,,”Bukan Lautan hanya kolam susu….”Artinya, keberadaan tentang kesuburan negeri ini sangat dihayati semenjak dulu.

Karena Negeri ini dibelah oleh garis Khatulistiwa,maka musim yang ada kebanyakan ada dua,yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap  pola bertani dan bertanam.

Alam Indonesia sangat subur dengan dua musim yang menyempurnakannya. Musim hujan adalah musim menanam dan musim kemarau adalah musim panen serta persiapan untuk menanam berikutnya. Menanam bisa dilakukan di mana saja. Untuk lahan kering di lereng-lereng bukit, system teras ering dengan air hujan sebagai andalan, sementara di daerah bawah dan lembah, sawah sepanjang musim bisa dipakai sebaga system dan siklus tanam.

Jenis atau macam tanaman yang bisa tumbuh di tanah Nusantara ini uga sangat bervariasi. Dari tanaman basah semisal padi sampai tanaman kering semisal ketela pohon bisa bertahan hidup di tanah negeri ini.

Kesuburan tanah Nusantara bukan sekedar mitos atau dongeng sebelum tidur, melainkan sebuah fakta. Seperti yang tertulis di atas, ungkapan syair lagu Koes Ploes,batu dan kayu jadi tanaman,itu memang benar. Untuk beberapa jenis tanaman, tidak memerlukan perhatian istimewa, tingga menanam dan setelah periode tertentu bisa dipanen. Semua  merupakan contaoh betapa negeri ini teramat sangat subur.

Pertanian Sebagai Inti Kehidupan Masyarakat

Keseburan tanah di negeri ini menjadikan Penduduk yang  mendiami negeri ini sepanjang sejarah menaruh harapan hidupnya dengan mengolah tanah. Memang benar, beberapa dalam periode tertentu berburu,namun itu hanya sebagai varian, sedangkan yang utama adalah mengolah tanah secara langsung. Catatan sejarah kerajaan-kerajaan yang sempat jaya di negeri ini hampir semua mengandalkan pertanian sebagai pilar kehidupan seluruh komponen msyarakat. Ladang dan sawah dibuka dari belantara demi menghasilkan bahan makan permanen yang memadai. System pengairan, baik yang sangat sederhana sampai yang modern (untuk jaman itu) dibuat dan dimanfaatkan untuk menghasilkan panen yang mencukupi untuk kebutuhan seluruh masyarakat.

Konsep bertanam diberlakukan dengan selalu mengacu pada kondisi alam,kondisi lingkungan. Semangat menjadi petani yang diteladankan dan kemudian diwariskan dari orang tua sangat kuat. Hal ini merupakan mekanisme menjaga spiritualitas agraris yang sangat kokoh. Generasi penerus selalu diajak melihat sekaligus melibatkan diri langsung dalam proses penggrapan tanah.

Semangat melibatkan langsung generasi berikut itu yang menjadikan pola hidup agraris bertahan. Dari tindakan sederhana dengan menyuruh anak-anak bermain  di sekitar sawah, disekitar tempat bertanam maupun panen, dengan menyuruh anak-anak mengirim bekal makan kepada orangtua yang sedang mengerjakan tanah pertanian adalah sebuah mekanisme tanpa sadar menanamkan spiritualitas bertanam.

Pertanian menjadi pusat kehidupan. Semua dilakukan setelah pekerjaan di tanah, baik sawah maupun lading usai. Maka,dalam tradisi desa-desa, pertemuan-pertemuan musyawarah selalu dilakukan setiap mlam,ini karena berdasar dari konsep bahwa malam adalah waktu  santai di luar sawah ladang, dan waktu itu dipergunakan untuk membangun solidaritas dan keakraban.

Dari swah ladanglah pola hidup gotong royong bertumbuh dan berkembang. Masyarakat tani melihat betapa tidak memungkinkan mengerjakan tanah sendirian,maka dibuatnyalah semangat gotong royong untuk meyelesaikan pekerjaan bersama. Itulah inti kehidupan tani di Nusantara ini.

Masuknya Konsep Industrialisasi

Era pasar bebas yang mondial dalam dunia global akhirnya sampai juga ke Nusantara, meski dalam bebrapa sisi belum siap. Namun toh semua telah terjadi. Badai Indutrialisasi riuh menghantam seluruh pelosok negeri. Di mana-mana dibuka pabrik-pabrik baru,lahan-lahan pertanian berubah menjadi gedung-gedung yang kokoh dan megah.

Berubahnya lahan pertanian itu sekaligus diikuti oleh perubahan pola pikir. Dari semangat bekerja kotor dengan lumpur sebagai sahabatnya,menjadi seragam dengan segala peraturan yang ketat.

Bagi msyarakat, lebih baik menjadi kuli pabrik daripada menjadi petani. Status kelas bawah sebagai petani menjadi salah satu pemicu yang membuat generasi muda meninggalkan pekerjaan warisan leluhur turun temurun ini.

Pola statis pasti pabrik dengan mekanisme kerja mesin telah mampu menjadikan masyarakat pelan namun pasti meninggalkan pola agraris. Pola pasti itu adalah adanya kepastian penghasilan yang akan selalu diterima setiap bulan. Itu bermusuhan dengan pola spekulasi alam dalam pola agraris. Petani menanam belum tentu akan segera mendapatkan hasil. Dan juga adanya ancaman dari berbagai macam sisi,baik alam maupun hama menjadikan para petani sering gagal panen. Hal inilah yang memicu berubahnya haluan menjadi pekerja pabrik-pabrik yang menjanjikan kepastian.

Hilangnya Semangat Bertani

Arus Industrialisasi yang mmebrikan jaminan kepastian pendapatan, jelas menjadi factor pemicu utama berubahnya pola pikir masyarakat. Namun selain itu juga perlu disadari bahwa ada fator pemicu yang lain, yang tidak kalah kuat. Factor itu adalah tidak adanya penghargaan kepada kehidupan petani. Baik itu penghargaan secara material maupun secara prestise. Menjadi petani adalah aib bagi anak-anak muda. Lebih baik ke kota  enjadi kuli panggul di pasar dan suatu waktu pulang dengan pakaian necis daripada menjadi petani yang berlumpur dan kotor. Ini semakin diperparah dengan “didikan dalam harapan” orang tua. Mereka selalu diajari dan dibisiki konsep “Rasah Rekasa neng ndesa dadi wong tani, lunga neng kutha wae..” . Paling tidak dua hal inilah yang berkolaborasi menghilangkan semangat bertani.

Selain hal yang saya sebut di atas, pihak pemerintah juga tidak pernah menghargai petani. Harga hasil tani dibuat semurah mungkin (biasanya berkongkalingkong dengan para tengkulak) dan kemudia malah mengimpor hasil dari Negara lain yang lolos cukai sehingga membunuh hasil anak negeri.

Konspirasi tingkat tinggi inilah yang membuat gairah menjadi petani sirna. Gairah mengolah tanah menguap ditelan panasnya cerobong-cerobong pabrik yang kian menjamur.

Dari beberapa catatan diatas, ada beberapa usulan saya yang mungkin bisa menolong Negara ini keluar dari jeratan konsep industrialisasi menuju pada mentalitas agrarisme dan kemudian kembali membangun bahagia bersamadengan Bercocok tanam, hal-hal itu adalah:

  1. Hargai petani baik secara posisi sosial di masyarakat.
  2. Hargai hasil pertanian anak negeri dengan harga lebih tinggi dari harga pruduk impor
  3. Teladani masyarakat dengan memulai mempergunakan produk-produk dalam negeri
  4. Tahan dan perjelas perijinan pembangunan pabrik-pabrik di negeri ini
  5. Damping dan latihlah anak-anak muda tentang model pertanian modern beserta dengan membangun jaringan dan komunitas, sekaligus konsep pemasarannya

Beberapa hal inilah yang mungkin akan bisa mengangkat Indonesia, Nusantara ini dari keterpurukan pangan dan kemudian menjadi sebuah negeri dengan ketahanan pangan yang kuat. Semua itu akan terjadi dengan menghargai Petani. Menghargai hasil asli anak-anak negeri. Menghargai prusuk-pruduk bumi pertiwi.

Author: Doni Setyawan

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

blog: www.ppsetyasemesta.blogspot.co.id

Komentar

comments

Leave a Reply