Benarkah Ada “Provider” Setengah Mafia di Pulsa Listrik?

pixabay

pixabay

Walaupun belum terpasang di semua rumah, pulsa listrik saat ini sudah cukup banyak terpasang di rumah-rumah, khususnya rumah-rumah yang baru saja dibangun. Banyak orang yang mengatakan listrik yang menggunakan pulsa ini lebih praktis karena tidak perlu keluar rumah dan mengantri untuk membayar listrik di loket, tapi tidak sedikit juga yang mengeluh mahalnya harga pulsa listrik yang harus mereka keluarkan.

Keluhan inilah yang didengarkan oleh Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman. Rizal mengatakan, bahwa pelanggan pulsa listrik system prabayar dirugikan karena mereka menerima pulsa listrik jauh lebih renda dari nominal yang mereka beli. Contohnya, jika membeli pulsa 100 ribu, mereka hanya mendapat 73 ribu. Menurut Rizal pada konfrensi pers di Jakarta (7/9/2015), hal ini sangat kejam karena 27%-nya disedot oleh provider yang menurutnya setengah mafia.

Rizal menambahkan, profit yang didapat oleh provider pulsa listrik sangat besar. Ia membandingkan dengan pulsa telepon genggam. Pulsa telepon genggam memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh pulsa listrik. Pertama, pulsa telepon bisa dibeli di mana pun, sedangkan pulsa listrik, masih cukup sulit karena belum banyak yang menjualnya.

Keunggulan yang kedua, saat kita beli pulsa telepon yang berisi 100 ribu, biasanya pelanggan hanya dibebankan 95 ribu karena menurutnya itu adalah uang muka. Provider bisa menyimpan uang muka di bank dan mereka bisa mendapat bunga.

Selain menyoroti masalah mahalnya biaya administrasi pulsa listrik, Rizal Ramli juga membahas masalah kebijakan pulsa listrik. Menurutnya, hal  tersebut bisa terjadi karena masih adanya system monopoli di tubuh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Kata Riza, dari dulu sampai saat ini, warga Indonesia semua diwajibkan untuk memakai listrik dengan system pulsa karena ada yang main monopoli di Perusahaan Listrik Negara pada masa lalu. Menurutnya hal ini sangat kejam, karena menurutnya jika masih ada anak yang belajar pada jam depalan, tapi listrik habis, aktivitas belajar mereka bisa terganggu. Ditambah lagi mencari pulsa listrik yang tidak semudah cari pulsa telepon.

Rizal Ramli kemudian meminta Dirut PLN (Perusahaan Listrik Negara) saat ini, Sofyan Basyir, untuk menyediakan masyarakat pilihan listrik pulsa atau meteran. Selain itu, Rizal juga meminta agar biaya administrasi pulsa listrik cukup 5 ribu, seseuai dengan kesanggupan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Rizal memohon bahwa kedua permintaannya tersebut bisa segera dilaksanakan oleh Perusahaan Listrik Negara.

Semoga Perusahan Listrik Negara segera melaksanakan permintaan Rizal Ramli, sehingga masyarakat bisa menikmati listrik dengan biaya yang lebih ringan. Selain itu, masyarakat punya pilihan, ingin memakai listrik   meteran atau pulsa, tidak seperti sekarang yang jika ingin pasang baru wajib memakai listrik system pulsa.

Komentar

comments

Leave a Reply