Gojek, Akan Selamanya atau Trend Sesaat?

10298491_10205955217213491_5245184084611301518_o
Jangan heran kalau melihat pemotor menepi dipinggir jalan dan sibuk menekuni gawai pintarnya. Ya betul, mereka adalah sekumpulan pengojek yang tergabung di dalam wadah Gojek. Suatu fenomena urban dan menjadi moda trasportasi alternatif.

Berawal dari potensi penyedia transportasi, Nadiem Makarim memulai PT Go-jek. Tak disangka, usahanya berkembang bak jamur di musim hujan. Aplikasi pada gawai pintar dibangun untuk membuat para pelanggan memesan ojek, lengkap dengan alamat penjemputan, pengantaran, rute yang dilalui serta yang utama adalah perkiraan biaya yang akan dibayarkan pelanggan.

Dengan sekali klik dan konfirmasi via telepon, pelanggan dapat mencapai tujuan. Selain memiliki layanan transportasi, Go-jek juga bisa dipesan untuk mengantarkan barang dan membeli makanan dalam aplikasi Go food, Instant Courier, dan Shopping.

Ongkos layanan pun sangat terjangkau selama masa promo. Dengan harga 10.000 maksimal pengantaran sejauh 25 km, pelanggan hanya merogoh kocek recehannya.

Antusiasme masyarakat semakin tinggi ditunjukkan dengan angka unduhan aplikasi yang berjumalah 650.000 orang. Jumlah tersebut diakomodasi oleh driver yang berjumlah 10.000 orang.
Tertarik menjadi driver gojek? Berikut persyaratannya:
1. Punya motor sendiri serta kelengkapan SIM.
2. Terbiasa menggunakan telepon berbasis android yang akan dicicil pembeliannya setiap bulan.
3. Setuju dengan system bagi hasil, yaitu 8o persen untuk para driver dan 20 persen untuk perusahaan.

Suka duka menjadi pengojek pun banyak dialami. Dari intimidasi sampai pemukulan serius banyak dijumpai. Seperti halnya yang terjadi di Kalibata, Pondok Labu ataupun di komplek-komplek perumahan dimana ojek konvensional biasa mencari penumpang, intimidasi sangat terasa. Spanduk anti Go-jek menyebar seiring dengan banyaknya pengojek konvensional beralih ke Go-jek. Penganiayaan ataupun pemukulan ditangani serius oleh Go-jek dengan melaporkan pelaku ke pihak berwenang.

Bukan hanya pengojek yang berkeluh kesah, pelanggan pun mengalami hal serupa. Dari aplikasi yang tidak bekerja dan pengojek yang nakal, mengambil order tanpa mengambil penumpang. Hal tersebut dimungkinkan karena pelanggan yang tidak bisa dihubungi sehingga para pengemudi memutuskan untuk menyelesaikan order tanpa menjemput.

Apakah sekedar trend? Menurut Basuki Tjahya Purnama atau akrab dipanggil Ahok menilai Go-jek akan menghilang karena perbaikan sistem transportasi ibukota seperti moda MRT atau jalur khusus dan pelebaran sayap jalur trans Jakarta.

Gojek mempunyai sederetan pekerjaan rumah. Lebih menyeleksi sumber daya yang merupakan ujung tombak perusahaan dan membenahi sistem aplikasi merupakan kedua hal utama. Pelanggan akan semakin pintar memilih mana yang membuat nyaman dan terjangkau. Go-jek juga perlu mempertahankan antusiasme pelanggan yang tetap mengharapkan harga promo karena jika menggunakan tarif normal, apakah antusiasmenya masih sama? Tanpa adanya peningkatan pelayanan, mustahil Go-jek bisa bertahan.

Komentar

comments

Leave a Reply