Konsep keluarga sakinah menurut islam dan pembahasan lengkap

Konsep keluarga sakinah menurut islam

Konsep keluarga sakinah menurut islam

Setiap manusia sudah diberikan pasangannya masing-masing, setiap pasangan muslim bercita-cita untuk membangun keluarga yang sakinah. Dan setiap ada teman, kerabat, sahabat dan keluarga yang menikah kebanyakan doa yang diberikan adalah agar menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah. Ungkapan itu menjadi familiar dan menjadi hal yang umum bagi umat muslim.

Ada beberapa orang menyebutkan keluarga yang sakinah itu adalah keluarga yang dibangun dengan hukum-hukum islam atau keluarga yang harmonis dan bahagia atau keluarga yang sama-sama mengingatkan jalan menuju surga. Tapi, bagaimanakah konsep keluarga sakinah itu menurut islam yang sebenarnya? Apakah arti dari sakinah, mawaddah, warahmah itu? Bagaimana memilih calon pendamping yang benar? dan apa tujuan dari perkawinan? dan apa saja hak dan kewajiban dari kedua belah pihak?

Marilah kita sejenak melihat lebih dekat mengenai keluarga sakinah menurut islam, agar kita mempunyai pemahaman yang kuat dan niat yang jelas tentang keluarga sakinah menurut islam.

Konsep keluarga sakinah, mawaddah, warahmah menurut islam.

Salah satu syariat yang Allah SWT berikan kepada umatnya adalah diturunkannya syariat pernikahan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam ikatan yang halal dan diharapkan dapat menciptakan generasi yang rabbani.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu, yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta satu sama lain. Dan peliharalah hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. ( QS. An Nisa: 1)

Tentunya ada banyak hikmah dan kebahagian yang didapat ketika Allah SWT mensyariatkan pernikahan kepada umatnya, yang disifatkan didalam alqur’an dengan ‘Miitsaaqan Galiidzan’ (tali ikatan yang berat). Dimana pernikahan itu tidaklah hanya sebagai pemenuhan atau penyaluran seksual secara halal namun ada pula tujuan yang lebih agung dari pada itu. Dari sebuah ikatan pernikahan diharapkan juga dapat menciptakan keluarga yang berbibit kan ketenangan dan sakinah, berbuah cinta kasih dan mawaddah, dieratkan pula dengan kasih sayang dan rahmah bagi keduanya.

Sungguh sudah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang bagus bagi kalian. Bagaimanakah cara rasul dalam berumah tangga dan berinteraksi dengan keluarga beliau. Dan bagaimana pula para istri Ummahatul Mukminin berinteraksi dengan rasulullah untuk mewujudkan keluarga sakinah mawaddah warahmah. Suaru seorang sahabat bertanya kepada Aisyah, Apa yang biasanya dilakukan oleh Rasul di rumah? Aisyah menjawab, Rasulullah biasa melayani  atau membantu istrinya dalam pekerjaan rumah dan jika datang waktu shalat beliau pun keluar rumah untuk melaksanakannya. (HR Bukhori).

Dalam rumah tangga yang samara dibutuhkan juga untuk saling memahami perasaan pasangan. Sesungguhnya aku tahu jika kamu sedang ridho terhadap ku atau ketika kamu sedang marah kepadaku”, begitu suatu kali Rasulullah menegur Aisyah. “Jika kau ridho terhadap ku, kau akan berkata: “Tidak, demi Tuhan Muhammad”, tetapi jika kau marah, kau berkata, “Tidak, demi Tuhan Ibrahim”. (HR. Muslim)

Atau pun mungkin terlihat sang istri bersedih ataupun menangis dalam kesedihan, suami segera merengkuh nya dan menyapu air mata istri dengan lembut. Begitu Rasulullah mulia mengajarkan dan tertulis dalam Sunan An Nasai, ketika suatu hari Shafiyyah binti Huyyai menemani dalam perjalanan Rasulullah tetapi kendaraan unta yang ditumpanginya sangat pelan sekali hingga ia terlambat sampai di tujuan, Rasul me-nyambut Shafiyyah yang langsung mengeluh seraya sesenggukan menangis: “Kau berikan kepadaku unta yang lamban sekali”, secara otomatis tangan beliau yang mulia menyapu air mata Shafiyyah hingga ia berhenti menangis.

Sungguh suri tauladan yang baik untuk di amalkan, adapun yang dibutuhkan dalam mewujudkan keluarga samara adalah dibutuhkan nya percakapan yang berwarna-warni dan tidak monoton. Sedikit diskusi tentang hal-hal baru dan menambah wawasan, tidak hanya membahas hal-hal itu saja yang tentunya akan menjadi bosan. Lalu sesekali mencari suasana baru, aktivitas sehari-hari akan membuat kejenuhan untuk itulah diperlukan refreshing untuk mencari suasana baru. Adapun yang lainnya adalah sifat  saling memaafkan dimana dibutuhkannya kesabaran dari kedua belah pihak dan mengerti akan perbedaan karakter masing-masing.

Dan bahwasanya dengan ketundukan kepada aturan Allah dan Rasulullah lah, ketenangan dan ke harmonisan di dalam sebuah rumah tangga akan hadir.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah, baik dari kaum laki-laki atau kaum perempuan sedangkan dia ber-iman, maka Kami (Allah) akan berikan kepadanya kehidupan yang sejahtera“.  (QS.An Nahl:97).

Menurut M. Quraish Shihab konsep keluarga sakinah menurut islam adalah keluarga yang tenang, penuh kasih sayang. Selanjutnya dalam konsep M. Quraish Shihab dijelaskan dengan modal sakinah dapat melahirkan mawaddah dan rahmah. Untuk mencapai mawaddah ada tiga yang harus dicapai yaitu perhatian,tanggung jawab dan penghormatan. Selain itu agar perkawinan menjadi langgeng yang lagi di warnai sakinah, konsep ini menganjurkan kesetaraan, musyawarah, kesadaran akan kebutuhan pasangan sehingga masing-masing memiliki peran dan tanggung jawab.

Jika bermanfaat, mohon like fb page kami ya!!

Itulah konsep keluarga sakinah menurut islam yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber. Semoga mendapatkan manfaat dari tulisan ini.

Komentar

comments

One Response

Leave a Reply