Makna tersirat tradisi mudik menyambut hari raya Idul Fitri

Makna tersirat tradisi mudik menyambut hari raya Idul FitriHalo sahabat Banjarwangi.com! Lebaran sebentar lagi, kita akan meninggalkan bulan suci Ramadan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Semoga ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT dan kita kembali kepada fitrah manusia pada saat dilahirkan, manusia yang suci tanpa dosa. Aamiin.

Pada postingan sebelumnya saya sempat menulis kebiasaan orang Indonesia menyambut lebaran Idul Fitri, salah satunya yaitu tradisi mudik. Pada kesempatan ini saya akan coba mengulas makna tersirat mudik menurut pendapat pribadi.

Mudik dapat diartikan pulang kampung atau pulang ke kampung halaman. Orang mudik karena mereka bekerja di perantauan atau tinggal di kota tempat tinggal suami/istri (dalam bahasa Sunda disebut ngumbara).

Mudik besar-besaran terjadi ketika menjelang hari raya Idul Fitri. Orang desa yang urban sengaja pulang ke kampung halaman masing-masing untuk merayakan hari kemenangan Idul Fitri bersama sanak keluarga di kampung.

makna tersirat tradisi mudik lebaran idul fitri

Mudik biasanya mengalami peningkatan mulai H-7, dan puncaknya pada H-1 atau malam takbiran. Pada hari-hari tersebut arus lalu lintas  di titik-titik tertentu macet sampai puluhan kilo meter. Lalu lintas tidak hanya dipadati oleh kendaraan pemudik, tetapi ditambah dengan peningkatan pengguna kendaraan pribadi yang akan berbelanja untuk keperluan lebaran.

Kalau melihat tayangan berita di televisi, pemudik rela berdesak-desakan di pelabuhan, terminal atau stasiun dan terjebak macet berjam-jam di perjalanan. Muncul pertanyaan dalam benak saya, apa sih makna tersirat dari tradisi mudik? Sampai-sampai jutaan orang mau keluar dari zona nyaman.

Saya mencoba menjawab pertanyaan sendiri dengan pendapat sendiri. Makna mudik menurut pendapat saya adalah kembali ke pengaturan awal. Artinya, kembali ke semula. Pepatah mengatakan, setinggi-tingginya burung terbang, pasti pulang ke kubangan.

Ini yang harus direnungkan, bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua makhluk hidup akan pulang kepada Sang Pencipta. Kita bisa belajar kepada para perantau dan pemudik, mereka pulang ke kampung halaman dengan bekal memadai agar bisa hidup senang di kampung asalnya.

Untuk meraih itu, mereka kerja keras banting tulang mencari rezeqi di perantauan karena mereka sadar bahwa suatu saat mereka akan pulang kampung. Mereka berpendapat lebih baik bersakit-sakit di rantau orang yang hanya sebentar, lalu hidup senang di kampung halaman selamanya daripada senang-senang di rantau tetapi sebentar lalu sengsara ketika selamanya.

Intinya, bersungguh-sungguhlah menjaga lima perkara sebelum datang lima perkara yaitu 1. masa muda sebelum datangnya hari tua, 2. masa sehat sebelum sakit, 3. masa kaya sebelum masa miskin, 4. masa lapang sebelum datangnya waktu sibuk, dan 5. masa hidup sebelum datangnya kematian.

Itulah makna tersirat tradisi mudik menurut pendapat saya. Bagaimana pendapat anda? silahkan tulis pada kolom komentar. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Terima kasih telah berkunjung. Salam!

Komentar

comments

Leave a Reply