Mau dibawa kemana nasib guru honorer dan madrasah swasta?

Nasib guru honorer Kemenang dan madrasah swasta kini sedang dipertaruhkan, kredibilitas dan dedikasinya sedang diuji mengingat dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari Kementerian Agama Republik Indonesia untuk madrasah sudah enam bulan belum cair dan belum ada kejelasan kapan akan dicairkan.

Perubahan akun di tingkat pusat berdampak pada lambatnya proses pencairan dana BOS ke tingkat bawah. Format yang pengajuan baru lumayan rumit dan tidak disertai bimbingan teknis yang matang sehingga banyak operator madrasah yang tidak bisa menyelesaikannya dan harus bolak-balik merevisi pengajuan dana BOS.

Selain itu, sistem pencairan dana BOS tahun 2015 juga berbeda dengan tahun sebelumnya karena di tahun 2015 madrasah harus membuat laporan pertanggung jawaban (LPJ) sebelum dana BOS diterima pihak madrasah. Format laporan pertanggung jawaban yang kini sedang digarap oleh para operator madrasah yaitu pembuatan LPJ honorarium guru.

Kalau dana BOS untuk honorarium guru bisa dicairkan, pihak madrasah harus mengajukan dan membuat laporan lagi untuk pembiayaan barang dan jasa, bahan habis pakai dan lain-lain.

Baca : pencairan dana BOS kemenang terlambat

Keterlambatan pembiayaan tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Mendikbud, Dr. Anies Baswedan yang menghimbau rakyat Indonesia untuk  meringankan biaya hidup guru. Nasib guru honorer di lingkungan Kementerian Agama sekarang diombang-ambing karena mayoritas dari mereka tidak memiliki sumber penghasilan lain selain menjadi tenaga pendidik di madrasah.

Guru honorer madrasah mengeluhkan nasib mereka yang tidak jelas. Jangankan untuk menatap masa depan, menatap hari esok saja sudah buram. Beban hidup yang terus bertambah, apalagi sebentar lagi menghadapi hari raya Idul Fitri 1436 H. kebutuhan hidup semakin membengkak sementara satu-satunya sumber pendapatan mereka seperti dikebiri.

gaji guru honorer

Kalau dilihat dari kasat mata, penampilan guru honorer memang keren dan seperti orang berduit karena pekerjaan mereka menuntut untuk berpakaian rapi, bersih dan memakai sepatu (mengkilap). Namun kenyataan di balik itu, mereka menjerit karena sesungguhnya gaji mereka tidak lebih dari Rp. 300.000 per bulan. Masih jauh lebih kecil dibanding pendapatan tukang ojek atau buruh tani di kebun.

Baca : rintihan guru honorer

Dampak keterlambatan pencairan dana BOS juga dirasakan oleh madrasah swasta. Pengelola madrasah kalang kabut mencari dana talangan untuk pembiayaan ujian madrasah, ujian nasional, dana pelepasan murid kelas IX dan operasional madrasah lainnya. Madrasah yang biasa menyelenggarakan Ramadan ceria bersama murid-muridnya kini sepi tanpa aktifitas.

Kalau guru honorer mulai berfikir untuk mencari jalan hidup lain yang lebih mengerti kesulitan hidup yang dihadapinya, bagaimana dengan nasib generasi bangsa Indonesia? Padahal guru honorer adalah tenaga kerja terdidik paling murah di negeri ini. Karyawan pabrik lulusan SMS bisa dapat gaji di atas 1 juta, sedangkan guru honorer ada yang hanya dapat Rp. 150.000 per bulan.

nasib guru honorer

Program sertifikasi guru juga semakin sulit, guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun harus menunggu SK pengangkatan pertamanya jadi guru sukwan berumur 10 tahun. Ada pula guru senior yang bertahun-tahun mengajar tetapi tidak punya NUPTK ia tidak dapat tunjangan fungsional, sedangkan guru yang baru beberapa bulan ikut mengajar mendapat tunjangan fungsional guru bukan PNS karena punya syarat administrasi yang lengkap.

Komentar

comments

Tags:

5 Comments

Leave a Reply