Waktu dan keistimewaan lailatul qadar (malam kemuliaan) Ramadan

Waktu dan keistimewaan lailatul qadarHalo sahabat Banjarwangi.com, selamat malam! Bagaimana puasa anda? Semoga lancar-lancar saja. Tidak terasa kita sudah melewati sepuluh hari pertama puasa Ramadan. Lebaran Idul Fitri sebentar lagi tiba dan kita akan segera memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, yaitu saatnya Allah SWT membuka pintu surga untuk orang yang menjalankan puasa dengan sebenar-benarnya. Di 10 hari terakhir Ramadan, umat Islam dianjurkan melaksanakan i’tikaf di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT agar mendapat keridhaan-Nya, karena di 10 hari terakhir terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan, yaitu  lailatul qadar.

Pada kesempatan ini, saya akan berbagi sedikit informasi kepada sobat semua tentang waktu dan keistimewaan  lailatul qadar, satu malam di bulan Ramadan yang sangat dinanti umat Islam.

#1. Pengertian lailatul qadar

Lailatul qadar atau lailat al qadar berasal dari bahasa Arab lailatil qadar (malam ketetapan), adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

#2. Waktu lailatul qadar

Silahkan perhatikan hadits-hadits shahih Bukrari yang menceritakan tentang waktu lailatul qadar pada bulan Ramadan, berikut ini:

Hadits #1

Aisyah mengatakan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan dan dia bersabda, yang artinya: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Romadhon” ” (HR: Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).

Hadits #2

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda. Berkata, telah mengabarkan kepada saya bapakku dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan, pada sisa malam kesembilan, pada yang ketujuh, pada yang kelima”. Hadits ini dikuatkan pula oleh ‘Abdul Wahhab dari Ayyub.

Sanad 1 : Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib bin Hasyim -> “Ikrimah, maula Ibnu ‘Abbas” -> Ayyub bin Abi Tamimah Kaysan -> Wuhaib bin Khalid bin ‘Ajlan -> Musa bin Isma’il

Sanad 2 : Abdullah bin ‘Abbas bin ‘Abdul Muthallib bin Hasyim -> “Ikrimah, maula Ibnu ‘Abbas” -> Ayyub bin Abi Tamimah Kaysan -> Abdul Wahhab bin ‘Abdul Majid bin Ash Shalti

Hadits #3

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami Humaid telah menceritakan kepada kami Anas dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar untuk memberitahukan kami tentang Lailatul Qadar. Tiba-tiba ada dua orang dari Kaum Muslimin yang membantah Beliau. Akhirnya Beliau berkata: “Aku datang untuk memberitahukan kalian tentang waktu terjadinya Lailatul Qadar namun fulan dan fulan menyanggah aku sehingga kepastian waktunya diangkat (menjadi tidak diketahui). Namun semoga kejadian ini menjadi kebaikan buat kalian, maka carilah pada malam yang kesembilan, ketujuh dan kelima (pada sepuluh malam akhir dari Ramadhan)“.

Sanad 1 : Ubadah bin Ash Shamit bin Qais -> Anas bin Malik bin An Nadlir bin Dlamdlom bin Zaid bin Haram -> Humaid bin Abi Humaid-> Khalid bin Al Harits -> Muhammad bin Al Mutsannaa bin ‘Ubaid.

Hadits #4

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abu Ya’fur dari Abu Adh-Dhuha dari Masruq dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), Beliau mengencangkan sarung Beliau, menghidupkan malamnya dengan ber’ibadah dan membangunkan keluarga Beliau”.

Sanad 1 : Aisyah binti Abi Bakar Ash Shiddiq -> Masruq bin Al Ajda’ bin Malik bin Umayyah -> Muslim bin Shubaih -> Abdur Rahman bin ‘Ubaid bin Nisthas bin Abi Shafiyah -> Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi ‘Imran Maimun -> Ali bin ‘Abdullah bin Ja’far bin Najih

Dari beberapa hadits tersebut, disimpulkan bahwa waktu lailatul qadar (malam ketetapan) di rahasiakan. Rasulullah saw menyuruh umatnya untuk mencari  lailatul qadar pada 10 malam terakhir. Secara umum, diketahui bahwa  lailatul qadar ditetapkan oleh Allah SWT pada malam ganjil. Namun sebaiknya mencari lailatul qadar dan beri’tikaf setiap malam pada 10 hari terakhir Ramadan mengingat terdapat perbedaan penetapan awal puasa.

#3. Keistimewaan malam lailatul qadar

 lailatul qadar begitu dinanti dan dicari oleh seluruh umat Islam dari zaman Nabi hingga akhir zaman karena terdapat keistimewaan luar biasa pada malam tersebut. Keistimewaan malam lailatul qadar dijelaskan dalam surat ke-97 dalam Al-Qur’an surat, yaitu surat Al-Qadar.

surat al qadr tentang keistimewaan lailatul qadar

yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan (1). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? (2). Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan (3). Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhan-Nya untuk mengatur segala urusan (4). Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (5).

Menurut (wikipedia):

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni:

#1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami”

#2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: “Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat”

#3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: “Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)”

Lailatul Qadar dapat juga kita artikan sebagai malam pelimpahan keutamaan yang dijanjikan oleh Allah kepada umat islam yang berkehendak untuk mendapatkan bagian dari pelimpahan keutamaan itu. Keutamaan ini berdasarkan nilai Lailatul Qadar sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Demikianlah pengertian, waktu dan keistimewaan lailatul qadar, malam ketetapan atau malam kemuliaan di bulan Ramadan. Semoga informasi ini bermanfaat dan kita berdo’a serta berupaya agar mendapatkan lailatul qadar pada Ramadan tahun ini. Aamiin.

Komentar

comments

One Response

Leave a Reply