Perkara yang membatalkan puasa

Perkara yang membatalkan puasaHalo Sahabat Banjarwangi.com! Kali ini saya akan berbagi sedikit informasi tentang perkara atau hal-hal yang membatalkan puasa serta konsekuensi bagi orang yang membatalkan puasa di bulan Ramadan secara disengaja.

Perkara yang membatalkan puasa :

#1. Makan dan minum secara sengaja

Makan dan minum yang dilakukan secara sengaja jelas akan membatalkan puasa. Syaikh Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Orang yang berpuasa dilarang makan dan minum karena keduanya dapat menguatkan tubuh. Padahal maksud meninggalkan makan dan minum di mana kedua aktivitas ini yang mengalirkan darah di dalam tubuh, di mana darah ini adalah tempat mengalirnya setan, dan bukanlah disebabkan karena melakukan injeksi atau bercelak.”

Ar Romaani dalam Al Mishbahul Munir berkata, “makan hakikatnya adalah memasukkan makanan setelah dikunyah. Jika yang dimasukkan adalah batu, maka itu sebenarnya tidak disebut makan.”

Kecuali makan dan minum di bulan puasa karena lupa atau dipaksa. Orang yang makan dan minum karena lupa atau dipaksa tidaklah batal. Dari Abu Hurairah ra, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Apabila seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, hendaklah dia tetap menyempurnakan puasanya karena Allah telah memberi dia makan dan minum.”

Menurut hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah tersebut, orang yang makan dan minum karena lupa harus menyelesaikan puasanya. Makanan dan minuman yang ia makan itu adalah anugerah Allah.

Konsekuensi orang yang melakukan pembatalan puasa karena makan dan minum dengan sengaja adalah wajib mengqada’.

#2. Muntah disengaja

Muntah secara sengaja dapat membatalkan puasa. Hal ini bersumber dari hadits Nabi Muhammad saw sebagai berikut:

Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’. (Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Konsekuensi orang yang melakukan pembatalan puasa karena muntah dengan sengaja adalah wajib mengqada’.

#3. Haidh dan nifas

Menurut hadits Nabi Muhammad saw dan ijma para ulama, wanita yang sedang berpuasa lalu datang haidh dan nifas di waktu siang, maka puasanya batal.

Hadits Nabi SAW : “Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79).

Syaikh Musthofa Al Bugho berkata, “Jika seorang wanita mendapati haidh dan nifas, puasanya tidak sah. Jika ia mendapati haidh atau nifas di satu waktu dari siang, puasanya batal. Dan ia wajib mengqadha’ puasa pada hari tersebut.”

Wanita yang meninggalkan puasa karena haidh dan nifas, ia harus menggantinya (mengqadha’) sebanyak hari puasa yang ia tinggalkan pada bulan lain.

#4. Bersetubuh secara sengaja

Jima, bersetubuh atau melakukan hubungan intim yang dilakukan secara sengaja serta ia tahu hukum haramnya jima saat berpuasa maka hal tersebut akan membatalkan puasa. Persetubuhan baik melalui kemaluan maupun dubur tetap membatalkan puasa meskipun tidak sampai keluar mani.

Allah SWT berfirman (yang artinya):

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187).

Orang yang jima’ (bersetubuh) di siang bulan Ramadhan, maka ia punya kewajiban qadha’ dan wajib menunaikan kafarat atau tebusan yang dibebankan pada laki-laki. Kafarah batal puasa karena jima dengan sengaja adalah memerdekakan satu orang budak. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin.

#5. Keluar mani karena sengaja

Keluar mani karena disengaja seperti melakukan ciuman atau mengeluarkan mani karena onani akan membatalkan puasa. Sedangkan jika mani keluar tanpa disengaja seperti disebabkan oleh mimpi basah, maka tidak membatalkan puasa.

Muhammad Al Hishni rahimahullah berkata, “Termasuk pembatal jika mengeluarkan mani baik dengan cara yang haram seperti mengeluarkan mani dengan tangan sendiri (onani) atau melakukan cara yang tidak haram seperti onani lewat tangan istri atau budaknya.”

Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al Bugho berkata, “Diharamkan mencium pasangan saat puasa Ramadhan bagi yang tinggi syahwatnya karena hal ini dapat mengantarkan pada rusaknya puasa. Sedangkan bagi yang syahwatnya tidak bergejolak, maka tetap lebih utama ia tidak mencium pasangannya.

Bagi yang puasanya batal karena keluar mani secara sengaja maka diwajibkan melakukan qadha’.

#6. Merokok

Secara bahasa merokok artinya minum asap. Oleh karena itu merokok dapat membatalkan puasa karena sudah termasuk minum.

Perkara Yang Membatalkan Puasa

Pertanyaan seputar perkara yang membatalkan puasa

#1. Bolehkan sikat gigi saat berpuasa?

Menurut hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dalam kitab Shahihnya secara mu’allaq mengatakan :

Seandainya tidak memberatkan umatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.”

Artinya siwak (sikat gigi) dibolehkan saat berpuasa asal tidak ada pasta gigi, air siwak atau serpihan siwak yang masuk ke dalam rongga mulut. Sebaiknya sikat gigi menggunakan pasta setelah makan sahur atau setelah buka puasa agar tidak khawatir membatalkan puasa.

#2. Bolehkah berkumur-kumur saat berpuasa?

“Adapun berkumur-kumur dan beristinsyaq (menghirup air dalam hidung) disyari’atkan (dibolehkan) bagi orang yang berpuasa dan hal ini disepakati oleh para ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat juga berkumur-kumur dan beristinsyaq ketika berpuasa. Akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan pada Laqith bin Shabirah, “Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq (menghirup air dalam hidung) kecuali jika engkau berpuasa.”  Yang dilarang saat puasa di sini adalah dari berlebih-lebihan ketika istinsyaq.” (Majmu’ah Al Fatawa, 25: 266).

Yang dimaksud berlebih-lebihan yaitu berkumur-kumur dengan memasukkan air sampai ke langit-langit mulut. Menurut madzab Imam Syafi’i orang yang berlebih-lebihan dalam melakukan kumur-kumur dan instinsyaq sampai ada air yang masuk ke rongga mulut, maka puasanya batal.

#3. Bolehkan berhubungan intim di malam hari puasa?

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 187 yang artinya :

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

#4. Bagaimana jika sampai waktu adzan Shubuh belum sempat mandi junub?

Perhatikan firman Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 187 (yang diberi warna hijau):

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma’af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187).

Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjumpai waktu fajar di bulan Ramadhan dalam keadaan junub bukan karena mimpi basah, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi dan tetap berpuasa.” (HR. Muslim no. 1109).

Dari ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi saw di atas, berarti bahwa dibolehkan melakukan hubungan intim (suami istri) hingga (sebelum) adzan Shubuh dan boleh tetap berpuasa apabila belum sempat mandi junub sampai waktu adzan.

Demikianlah informasi seputar perkara yang dapat membatalkan puasa. Selanjutnya keistimewaan bulan Ramadan. Semoga bermanfaat dan mudah-mudahan puasa kita diterima Allah SWT. Aamiin.

Komentar

comments

Leave a Reply