Pendakian gunung Guntur Garut bersama pendiri KPGBS

Pendakian gunung Guntur Garut bersama pendiri KPGBS

 

Pendakian gunung Guntur Garut bersama pendiri KPGBS adalah pendakian pertama saya ke puncak  gunung Guntur Kabupaten Garut. Pendakian tersebut sudah berlangsung lama, yaitu bulan Maret tahun 2012.

Ketika itu, saya diajak muncak ke gunung Guntur bareng KPGBS oleh pendaki senior dari Banjarwangi, Axew Birkatun. Pendaki berpengalaman yang sudah menginjakkan kakinya di atap tertinggi pulau jawa, Mahameru puncak abadi para dewa.

Saya tidak bisa menolak ajakannya, karena saya juga penasaran dan tertarik ngetrip ke puncak gunung Guntur yang kata orang merupakan gunung Semeru nya Kabupaten Garut. Mungkin karena track pendakiannya pasir dan berbatu. Setelah dicoba, ternyata ada benarnya. Jalur pendakian gunung Guntur mantap, dua kali melangkah sekali mundur.

pendakian gunung guntur garut bersama KPGBS

Pendakian ke gunung Guntur Garut bareng KPGBS

Kalau tidak salah hari itu hari Sabtu, saat itu saya sedang menjalani bimbingan skripsi di STAIDA Muhammadiyah Garut jalan Bratayuda. Peralatan dan perlengkapan naik gunung saya bawa ke kampus, sorenya langsung berangkat menuju alun-alun Tarogong. Tiba di alun-alun, terlihat bah Axew dan beberapa orang yang belum saya kenal membawa ransel (carrier) yang tingginya melebihi kepalanya. Saya hampiri mereka, kemudian memperkenalkan diri sambil menjabat tangan mereka satu per satu ala salam komando.

Sampai menjelang magrib, rombongan belum juga berangkat. Setelah ditanyakan, ternyata mereka masih menunggu pendiri KPGBS (Komunitas Pendaki Gunung Balad Soekarno, saat itu anggotanya baru 17 orang), Drs. Akuh Sukarno Muda, M.Pd. beserta anak didiknya dari Tasikmalaya. Selepas shalat magrib akhirnya rombongan yang dinanti tiba di mesjid agung Tarogong menggunakan sepeda motor.

Setelah shalat isya, motor dititipkan di komplek masjid agung Tarogong. Rombongan berjalan menuju kampung Tanjung. Namun belum sampai di kampung Tanjung, salah seorang dari rombongan menyuruh kami berhenti. Dia menghampiri colt buntung yang terparkir di di pinggir jalan, rupanya dia akan menggunakan jasa angkutan colt buntung sampai di lokasi galian pasir kaki gunung Guntur.

Singkat cerita kami sampai di lokasi galian pasir, bayar ongkos 10 ribu per orang lalu jalan kaki menuju Curug Citiis. Beberapa saat sebelum sampai di curug Citiis, komandan KPGBS meminta pasukan pendaki berhenti dan menyuruh mereka mengeluarkan nasi timbel. Kebetulan saya tidak membawanya, ikut saja makan bersama mereka. Istirahat sejenak, perjalanan pun dilanjutkan.

Tiba di curug Citiis sudah jam 12 malam. Kami beristirahat kembali di sana, melepas lelah sambil menyeduh mie dan kopi hitam. Kira-kita jam 1 dini hari, perjalanan menuju puncak gunung Guntur dilanjutkan. Saya tidak bisa melihat dengan jelas jalur yang dilewati, karena gelap. Yang saya ingat waktu itu berjalan terasa sulit, hingga keringat mengalir padahal cuaca sangat dingin dan angin bertiup kencang.

Di tengah perjalanan, rombongan terbagi menjadi dua. Saya beserta 5 orang lainnya melanjutkan pendakian ke puncak gunung Guntur malam itu juga, sedangkan sisanya rombongan pak Akuh termasuk bah Axew menginap di perjalanan.

Saya sampai di puncak gunung Guntur sekitar jam 4 subuh, angin bertiup kencang, udara begitu dingin rasanya menusuk sampai ke tulang menyambut kedatangan kami di puncak gunung Guntur. Setelah menyeduh kopi dan mie instan, kami lantas tidur berbalut sleeping bag di alam terbuka. Pagi sekali kami dibangunkan oleh rombongan kedua yang baru sampai di puncak. Kami mengabadikan momen indah di puncak Guntur, mentari terbit menghangatkan tubuh kami yang menggigil.

Setelah keliling-keliling puncak, foto bersama dan makan nasi liwet bareng di puncak gunung Guntur, sekitar jam 10 pagi kami turun melewati trek pasir dan berbatu, sampai di curug Citiis jam 12 siang. Istirahat beberapa saat di sana, kemudian rombongan KPGBS dari Tasikmalaya pamit pulang. Tinggal saya, bah Axew dan 4 pendaki lainnya dari Garut. Kami memutuskan untuk menginap semalam lagi di areal penambangan pasir kaki gunung Guntur.

Keesokan harinya kami pulang numpang truk pengangkut pasir sampai di kampung Tanjung, dari situ kami berpencar kembali menuju rumah masing-masing. Sejak itulah kami sering melakukan pendakian bareng ke gunung Cikuray dan gunung Papandayan.

Itulah cerita pendakian gunung Guntur bersama pendiri KPGBS, semoga pengalaman pribadi ini ada hikmahnya bagi pembaca!

Pendakian gunung Guntur Garut bersama pendiri KPGBS – Banjarwangi.com

Komentar

comments

Leave a Reply