Mawakeun, tradisi menyambut lebaran yang sudah punah

Mawakeun, tradisi menyambut lebaran yang sudah punah

 

Mawakeun adalah tradisi masyarakat pedesaan dalam menyambut hari raya Idul Fitri atau lebaran. Asal kata mawakeun adalah mawa yang berarti membawa. Yang dimaksud mawakeun disini adalah berkunjung ke rumah sanak keluarga sambil membawa nasi berikut lauk pauknya. Kunjungan tersebut tidak selalu dilakukan oleh orang orang tua, seringnya orang tua sibuk memasak di rumah sedangkan bawaannya itu diantarkan oleh anak-anaknya.

mawakeun tradisi masyarakat desa

Ilustrasi : pinterest.com

Tahun 1998 mawakeun masih menjadi tradisi masyarakat pedesaan. Anak-anak pulang pergi membawa rantang ke rumah kerabat orang tuanya. Saking banyaknya, kadang-kadang nasi berputar. Nasi kiriman tetangga yang ini dikirimkan lagi ke tetangga yang itu. Dan mungkin terjadi nasi akan kembali ke rumah si pengirim pertama.

Tradisi mawakeun tersebut biasanya dilakukan sejak seminggu menjelang hari raya idul fitri. Masyarakat yang punya kolam mengambil ikannya ramai-ramai bersama tetangganya, istilah ini disebut ngabedahkeun. Tetangga yang ikut membantu mengambil ikan akan mendapat imbalan berupa ikan-ikan kecil atau mujair.

Namun sayang sekali, tradisi mawakeun perlahan-lahan mulai punah ditelan zaman dan sekarang sudah tidak terlihat lagi anak-anak atau orang tua saling berkunjung sambil menjinjing rantang menjelang hari lebaran. Tradisi warisan nenek moyang orang desa itu sudah ditinggalkan anak cucunya (termasuk saya).

Padahal, tradisi mawakeun mengandung pesan moral yang luar biasa. Kita diajarkan hidup rukun dengan keluarga dan tetangga serta dididik saling berbagi dengan sesama.

Tradisi masyarakat desa – Banjarwangi.com

Komentar

comments

Tags:

Leave a Reply